Bersyukur Melalui Anak

Kemarin, Ahad (11/08), saya membaca artikel di Majalah Intisari Online  sebuah tulisan dengan judul “Alasan Suku Inca Mengorbankan Anaknya”.  Ada dua perasaan yang hadir, “permakluman” dan sedih tak terperi.

Permakluman karena beginilah faktanya tata cara suku-suku tertentu “beribadah”.  Kalau tidak mempersembahkan gadis perawan di altar maka anak kecil yang dikorbankan.  Bukankah begini di cerita-cerita yang sering kita baca?

Kembali ke artikel yang dimaksud di atas.  Berawal dari seorang arkeolog yang menemukan mumi pada tahun 1999 yang berjenis kelamin perempuan dengan usia ketika itu kurang lebih 15 tahun ketika tewasnya.  Gadis yang kini menjadi mumi yang sedang kita bicarakan ini diduga pernah hidup 500 tahun yang lalu di atas ketinggian lebih dari 22 ribu kaki di Argentina Utara.  Ilmuan menduga gadis ini menjadi persembahan masyarakat Suku Inca bagi dewa-dewanya.

Sekilas, gadis itu seolah dibiarkan mati kedinginan di atas ketinggian Andes yang menggigil.  Saat ditemukan, mumi itu terbungkus daun koka dan bertabur bahan pengawet sejenis alkohol.

Dalam bukunya Narrative of the Incas, Juan de Betanzos menggambarkan jalannya persembahan yang teramat sakral, “Anak-anak (yang akan dikorbankan) itu akan dikumpulkan dari seluruh wilayah dan akan dibawa dalam tandu bersama-sama…mereka diberi pakaian yang paling bagus dan dipasangkan laki dan perempuan.”

Mungkin kala itu –demikian pula suku yang memiliki kebiasaan mengorbankan manusia– sesajian terbaik adalah sesajian yang paling dicintai.  Sulit bagi saya untuk membayangkan.

Segera saja menyeruak sebuah pertanyaan dalam hati, “Mungkin tidak kita melakukan peribadatan kepada Sang Khaliq tetapi tanpa melukai, menyakiti, dan apalagi mengorbankan nyawa orang yang kita cintai?”.  Sebuah pertanyaan yang manusiawi tentunya.

Teringatlah saya sebuah hadits yang dulu ketika saya baru “menemukannya” harus berulangkali membacanya untuk memahaminya. Hadits ini penuh makna tersirat.  Satu kalimat saja padahal tapi mesti berulang kali saya membacanya. Pun sampai sekarang kadang masih berulang kali membacanya.  Maklumlah, generasi fakir ilmu. 🙂

Hadits ini berbunyi, “(Orang) yang paling pandai bersyukur kepada Allah adalah orang yang paling pandai bersyukur kepada manusia.” (HR. Ath-Thabrani).

Luar biasa leganya tiap kali membaca hadits ini.  Pun ketika teringat dengan hadits ini sewaktu membaca artikel ritual pengorbanan Suku Inca tersebut.  Islam membuat saya tenang.  Puas beribadah.  Puas pula menyayangi putra-putri saya.  Semua satu jalur.  Berbakti kepada Allah SWT tanpa menyakiti putra-putri tercinta.  Sebaliknya mencintai putra-putri bukan berarti membangkang kepada-Nya.

Bagi saya, dalam konteks hadits ini, beribadah (menghaturkan rasa syukur) kepada Sang Khaliq bukannya menyakiti anak-anak kita, apalagi mengorbankan nyawanya, tetapi justru menyayangi itu sendiri (pandai bersyukur kepada manusia).

Seoalah-olah hadits ini mengajarkan, “Sayangilah anak-anakmu dan didiklah sebaik mungkin sebagai wujud rasa syukurmu pada-Nya. Sebaliknya jika manusia menelantarkan amanah ini maka inilah wujud pembangkangan yang nyata kepada-Nya”.

Ya Allah kami bersyukur atas nikmat dalam agama-Mu dan nikmat hidayah keimanan.

Wallahu’alam…[]

Didedikasikan untuk Tsabita, putriku tercinta. Salam sayang dari Papa.

PN.

Banjarbaru, Senin 12 Agustus 2013.

Banjir, Persoalan Teknis hingga Ideologis

Jakarta. Prof Dr Ing Fahmi Amhar menyatakan kalau banjir itu cuma insidental, maka itu persoalan teknis belaka. Tetapi kalau banjir itu selalu terjadi, berulang, dan makin lama makin parah, maka itu pasti persoalan sistemik.
“Kalau banjir sistemik itu dapat selesai dengan bendungan baru, pompa baru, kanal baru dll, maka itu sistem-teknis,” ungkap peneliti utama di Geospatial Information Agency (former Bakosurtanal) tersebut kepada mediaumat.com, Ahad (20/1).

Namun, kalau itu menyangkut tata ruang yang tidak dipatuhi, kemiskinan yang mendorong orang menempati sempadan sungai, keserakahan yang membuat daerah hulu digunduli, sistem anggaran yang tidak adaptable untuk atasi bencana, pejabat yang tidak kompeten dan abai mengawasi semua infrastruktur, dsb, maka itu sudah terkait dengan sistem-non teknis.

“Sistem non teknis kalau saling terkait dan berhulu pada pemikiran mendasar bahwa semua ini agar diserahkan kepada mekanisme pasar dan proses demokratis, maka persoalannya sudah ideologis,” beber aktivis Hizbut Tahrir Indonesia tersebut.

Kalau benar masalahnya ideologis, maka benar bahwa usaha tuntas mengatasi banjir itu adalah mengganti ideologi itu dengan Islam. “Dan sebuah negara yang ideologinya Islam, disebut Khilafah,” pungkasnya.[] Joko Prasetyo

Demokrasi Dan Matinya Agama

Imbas dari hegemoni orientalisme dan gerakan Yahudi dalam bidang politik sangat berdampak kepada dunia Islam. Kita masih ingat bagaimana kaum liberal mendekatkan fahamnya dengan kekuasaan, dari mulai berkiprah di partai politik sampai berupaya menjebolkan misinya lewat jalur undang-undang. Adalah omong kosong jika organisasi seperti Jaringan Islam Liberal, hanya berdalih ingin memisahkan Islam dari Negara. Klaim-klaim liberalisasi Islam murni dilakukan tanpa tendensi politik patut dipertanyakan. Sebab dalam faktanya, tidak ada ideologi zionis apapun yang mampu menunjang peradaban tanpa ditopang relasi kuasa. Baik itu demokrasi, komunisme, kapitalisme dan lain sebagainya.

Uniknya, berbeda dengan ideologi Islam, ideologi zionisme selalu didirikan lewat serangkain aksi manipulasi, tipudaya, dan juga rekayasa. Ini amat dimungkinkan, karena tidak ada patokan benar dan salah secara tetap. Mereka digerakkan oleh faktor kebencian dan menjadikan kepentingan lebih utama daripada segalanya. Kita masih ingat bagaimana komunisme memecah Syarikat Islam (SI) menjadi dua warna antara putih dan merah. Adalah Ordo Illuminati berjubah Komunis yang disebut-sebut Ad El Marzdedeq dalam bukunya “Freemasonry Melanda Dunia Islam” bergerak secara diam-diam bergerilya ke SI dan berhasil mengkader Semaoen dan Darsono.
Demokrasi Politik dan Ilusi Zionis
Setelah Abad Pertengahan gagal membangun kekuatan, Barat selalu berupaya mencari formulasi pengganti. Dominasi gereja dalam abad pertengahan dianggap menahan laju ilmu dan kebebasan manusia-manusia. Inilah yang kemudian membuat teologi abad pertengahan hancur dan kemudian Barat memunculkan nama baru berupa modernisasi lewat aksi renaisans.
Modernisasi kemudian diisukan sebagai akhir dari penantian selama ini. Mereka menyebut modernisasi adalah edisi pamungkas dari sejarah pencarian Barat terhadap Peradaban dimana keran ilmu pengetahuan mengalir deras mengucur membasahi setelah sebelumnya ditahan klaim Kristen.
Namun uniknya, ditengah secercah harapan atas laju kehidupan yang dicita-citakan itu, modernisasi juga tidak mampu membuat perubahan secara lama. Konsep kebenaran dalam modernisasi yang tidak sesuai perkembangan zaman lagi, membuat Barat merevisi faham mereka dan kemudian menggantinya dengan postmodernisme. Dalam postmodernisme, tidak ada lagi kebenaran pasti, semuanya menjadi relatif. Benar secara agama, belum tentu benar di Masyarakat. Bahkan kebenaran agama bisa dibatalkan oleh mufakat. Nah di titik inilah para orientalis menggam-gemborkan Demokrasi di dunia Islam.
Francis Fukuyama dalam bukunya The End of History and The Last Man nyaris meniru peralihan sistem dari mulai abad pertengahan sampai dominasi postmodernisme. Orientalis keturunan Jepang itu mengatakan demokrasi adalah sistem terbaik dan pemenang ketika komunisme Soviet tumbang.
Padahal dalam perkembangannya, demokrasi penuh dengan dosa. Seperti dikutip Farid Wajdi, pengkritik Demokrasi seperti Gatano Masco, Clfrede Pareto, dan Robert Michels cenderung melihat demokrasi sebagai topeng ideologis yang melindungi tirani minoritas atas mayoritas. Dalam praktiknya, yang berkuasa adalah sekelompok kecil atas kelompok besar (Ilusi Negara Demokrasi: Al Azhar Press 2009)
Konteks tirani minoritas atas mayoritas inilah apa yang kita sebut sebagai permainan Zionis dalam mencengkaram umat saat ini. Kaum Zionis, yang disebut Paul Findley, memiki masa tak lebih dari angka 20 juta, mampu menguasai lobi-lobi, tidak hanya di Amerika, tapi juga Negara muslim lainnya.
Kita masih ingat kasus Mesir. Isu-isu yang dihembuskan para orientalis dan zionis tentang cita-cita demokrasi sebagai prasyarat Negara maju sudah bermain sejak lama jauh sebelum Revolusi Timur Tengah melanda. Freedom House, misalnya, lembaga mantel zionis ini aktif menyebarkan keniscyaan demokrasi sebagai ideologi yang kelak sebagai “pilihan terakhir” bagi rakyat Mesir.
Freedom House sendiri berawal ketika Wendell Willkie, Eleanor Roosevelt, George Field, Dorothy Thompson, Herbert Bayard Swope bersatu untuk menentang paham Nazi. Pada tahun 1940-an, Freedom House mendukung Marshall Plan dan pendirian NATO yang kini tercatat sebagai salah satu kekuatan zionis dalam meluluhlantahkan Libya. Sedangkan pada tahun-tahun 1950-1960-an mereka sudah terlibat akfif dalam mendukung gerakan hak asasi manusia di AS.
Selain nama Freedom House, nama lain yang menjadi penggerak demokratisasi di Negara-negara muslim adalah National Endowment For Democracy (NED). NED sendiri adalah sebuah yayasan swasta nirlaba yang berbasis di Amerika Serikat. Ia berfungsi untuk memberikan hibah dalam rangka mendukung proyek-proyek LSM di seluruh dunia untuk pertumbuhan dan penguatan lembaga-lembaga demokratis.
Yayasan ini didirikan pada tahun 1983 dan menyediakan lebih dari 1000 dana bantuan per tahun untuk LSM dalam rangka mempromosikan demokrasi di lebih dari 90 negara. Tidak hanya itu, NED juga tercatat aktif dalam menawarkan beasiswa dan melakukan penelitian dan pertukaran internasional bagi para aktivis demokrasi, hak asasi manusia advokat, jurnalis, dosen dan peneliti.
Demokrasi dan Matinya Agama: Ujung Dari Protocol of Zion
Sebelum NED dan Freedom House mendefinisikan apa yang disebut standar negara sukses dengan demokrasinya di Timur Tengah, Steve Bruce lewat bukunya “God is Dead: Secularization in West” (Blackwell: 2002) menguraikan perihal karakteristik negara modern. Seperti dikutip oleh Syamsudin Arif, Bruce sebagai sosiolog agama kemudian menerjemahkannya pada tiga ciri.
Pertama, adanya diferensiasi fungsi dan struktur sosial, ditandai dengan munculnya sistem birokrasi dan profesionalisme, menggantikan hirarki, dominasi dan pretensi kelompok tertentu. Namun Bruce memberi syarat khusus bahwa hal ini akan sukses ketika dibarengi oleh maraknya tren Pluralisme Agama dan relativisme bahwa tidak ada lagi kebenaran tunggal dalam monopoli kebenaran.
Kedua, lahirnya privatisasi agama sebagai konsekuensi dari kehidupan yang lebih terorganisir dan terjamin, sehingga agama dirasakan tidak lagi relevan jika tidak berpengaruh sama sekali dalam konteks sosial. Agama hanya menjadi lahan privat dan pribadi tanpa diperbolehkan ikut campur dalam masalah agama. Ucapan Bruce ini kemudian bisa kita paralelkan dengan statement Ulil tentang Ahmadiyah.
Ketiga, bagi Bruce, Negara harus memberi ruang untuk masuknya rasionalisasi dimana sains tampil dominan menggantikan mitologi, mistisisme, dan sihir. (Kemodernan, Sekularisasi, dan Agama: Jurnal Islamia 2007)
Pertanyaannya, apakah yang sebenarnya didefinisikan mistisme dan mitologi dalam termin Bruce? Jawabannya sudah terlebih dahulu diambil oleh August Comte, seorang Yahudi konspiratif yang menaruh konsentrasi untuk meruntuhkan Khilafah Islamiyah dan kemudian terlaksana pada tahun 1924 oleh Kemal Ataturk.
August Comte menggariskan bahwa perkembangan pemikiran manusia terdiri atas tiga tahapan yaitu Tahap Teologik, tahap metafisik, dan kemudian mencapai titik akhir pada tahap positif. Menariknya Comte mendefiniskan zaman penuh kelam, hancur, dan tidak keruan ketika zaman teologik atau agama tampil dominan menguasai sendi kehidupan.
Sebaliknya zaman positif, menurut maksud Comte adalah zaman penuh kemajuan karena orang berusaha untuk menemukan hukum segala sesuatu dari berbagi eksperimen yang akhirnya menghasilan fakta-fakta ilmiah, yang terbukti dan dapat dipertanggung jawabkan. Dan bagi Comte, hal itu tidak bisa terjadi ketika agama turut campur dalam kehidupan. Rupanya perkataan Comte inilah yang serupa di Protocol of Zion nomor 5:
“Ada suatu langkah yang mampu membikin opini umum, yaitu kita harus mengajukan berbagai pandangan yang dapat menggoyahkan keyakinan-keyakinan sebelumnya yang sudah tertanam di hati dan pikiran masyarakat. Kalau usaha ini belum mendapatkan perhatian, maka masyarakat harus diberikan pandangan lagi yang secara sosial dapat diterima.
Dengan cara ini, keyakinan lama yang sudah tertanam di hati manusia akan tergoyahkan, dan pada akhirnya akan tumbang, lantaran terdepak oleh perkembangan zaman. Pada akhirnya pendapat dan pandangan yang tidak searah dengan tujuan Yahudi akan musnah, dan di dunia akan jatuh ke dalam perangkap kesesatan.”
Dan doktrin Comte ini menjalar ke seluruh dunia Islam, mulai dari Asia hingga Afrika. Makanya ketika kasus Ahmadiyah meneyeruak, Ulil meminta Negara tidak boleh ikut campur, karena agama wilayah privat dan tidak boleh terjadi relasi kuasa disana. Menariknya Ulil justru kini masuk ke Partai Politik dan memperjuangkan pengesahan pemikiran-pemikiran nyelenehnya tentang Islam lewat jalur undang-undang.

Namun apakah kaum liberalis masuk ke wilayah politik untuk mengangkat agama? Jawabannya tidak, karena mereka ingin “membunuh” agama seperti lonceng kematian Tuhan yang bergema di seluruh Eropa dan Amerika setelah Frederich Nietszche memploklamirkannya. Dan kita tidak perlu berperang dengan mereka di sana, karena justru demokrasi lah yang sebenarnya membuka peluang untuk liberalisasi. Karena benar dan salah bukan lagi milik Allah. (Pz/Islampos/www.globalmuslim.web.id)

Epidemik Pemerkosaan, Tamparan Untuk Pemuja Demokrasi

elompok liberal yang mendewa-dewakan demokrasi dan anti syariah Islam tentu kecewa, melihat fakta  negara-negera Eropa yang tingkat pemerkosaannya tinggi.Sesuatu yang seharusnya menjadi tamparan bagi Yeni Wahid—salah  satu pentolan kelompok liberal—yang  dengan bangga menyatakan angka perkosaan di Saudi lebih tinggi daripada Eropa yang perempuannya banyak pakai bikini.

Padahal menurut data statistik tentang angka Pemerkosaan di 116 negara, 7 dari 10 negara dengan tingkat pemerkosaan tertinggi justru terjadi negara-negara Eropa.Seperti dilansir nationmaster.com ,  Prancis, Jerman, Rusia, dan Swedia adalah negara Eropa dengan tingkat perkosaan tertinggi di dunia.
Kelompok liberal ini tentu lebih kecewa lagi, ketika melihat realita, banyaknya  negara yang mengklaim sebagai negara demokratis yang tingkat kriminalitas seksual juga tinggi. Menurut data  United States Department of Justice total korban pemerkosaan atau serangan seksual yang dilaporkan di Amerika pada pada tahun 2005 ada 191.670 orang.
Data pada 1995 dari lembaga perlindungan anak lokal AS mengidentifikasi 126 ribu anak-anak menjadi korban kekerasan seksual baik dapat dibuktikan atau hanya terindikasi. Dari jumlah korban itu, 75 persen adalah anak perempuan. Sekitar 30 persen korban kekerasan seksual itu berusia empat hingga tujuh tahun.
Harian The Guardian (10/1) menambahkan potret rusak negara kampiun demokrasi Inggris. Berdasarkan sebuah studi dilaporkan hampir satu dari lima wanita di Inggris dan Wales menjadi korban serangan seksual sejak berusia 16 tahun. Studi ini juga menunjukkan ada sekitar 473 ribu orang dewasa yang menjadi korban kejahatan seksual setiap tahun, termasuk di dalamnya ada 60 ribu sampai 95 ribu korban perkosaan.
Kondisi yang sama terjadi di negara demokratis lain di luar Amerika dan Eropa, seperti India. Negara ini tergoncang dengan meninggalnya mahasiswi kedokteran India berusia 23 tahun yang menjadi korban dari serangan pemerkosaan brutal  (16/12) oleh enam orang laki-laki di dalam bis di New Delhi.
Pemerkosaan di negara demokratis terbesar di dunia ini  ini memang mencengangkan, mencapai tingkat epedemik. Menurut Al-Jazeera, seorang perempuan diperkosa setiap 20 menit di India, dan 24.000 kasus perkosaan telah dilaporkan hanya untuk tahun lalu saja. Dilaporkan 80 persen wanita di Delhi telah mengalami pelecehan seksual. Sementara The Times of India melaporkan, perkosaan di India telah meningkat secara mengejutkan sebanyak 792 persen selama 40 tahun terakhir.
Perlu kita catat, angka pemerkosaan yang tinggi justru terjadi di negara-negara demokratis sekuler yang justru tidak menerapkan syariah Islam. Kita tentu saja bukan ingin  menyatakan bahwa di negara-negara Arab tidak terjadi pemerkosaan, karena negara-negara Arab juga bukanlah potret negara yang benar-benar menerapkan syariah Islam.
Yang ingin kita soroti adalah kegagalan negara-negara demokratis untuk melindungi wanita dari kejahatan seksual. Nilai-nilai liberal yang mereka agung-agungkan justru menjadi sumber malapetaka. Karena itu penting kita renungi komentar Dr Nazreen Nawaz, anggota Kantor Media Pusat Hizbut Tahrir  tentang kejahatan seksual yang marak di India.
Menurutnya, di saat pemerintah Barat terus mengekspor “demokrasi” pada dunia Islam sebagai sistem terbaik dalam menjamin martabat dan hak-hak perempuan, maka negeri demokratis terbesar di dunia ini justru dengan spektakuler telah gagal dalam melindungi kaum perempuannya.
Kejahatan seksual dengan tingkat yang mengerikan, sikap longgar pihak kepolisian India dalam menjaga martabat perempuan, dan sikap apatis dari pemerintah India dalam menjamin keamanan mereka adalah hasil dari kultur liberal yang secara rutin dan sistematis merendahkan nilai kaum perempuan. Kultur yang dibanggakan oleh negara dan diwujudkan dalam industri hiburan Bollywood.
Nazreen menambahkan, kultur Bollywood ini, bersama dengan industri lain seperti entertainment, periklanan, dan pornografi yang didukung oleh sistem demokrasi sekuler liberal India telah menampilkan kaum perempuan sebagai obyek untuk dimainkan sekadar memuaskan hasrat kaum lelaki, melakukan seksualisasi masyarakat, mendorong individu untuk mengejar keinginan egois jasmaniah mereka, mempromosikan hubungan di luar nikah, memelihara kultur pergaulan bebas dan memurahkan hubungan antara pria dan wanita. Semua ini telah menumpulkan kepekaan terhadap rasa jijik yang seharusnya dirasakan kaum lelaki, saat martabat kaum perempuannya dinodai.
Oleh karena itu, menurutnya,  tidak mengherankan India telah mengejar posisi dan status yang sejajar dengan negara-negara liberal lainnya seperti US dan Inggris, yakni berada di antara para pemimpin global kekerasan terhadap perempuan. Sistem demokrasi sekuler liberal ini, di mana setengah penduduknya hidup dalam ketakutan, bukanlah model yang pantas ditiru oleh dunia Muslim.
Islam satu-satunya sistem yang terbukti melindungi kehormatan masyarakat dan kemulian wanita. Masyarakat Islam dibangun atas dasar ketaqwaan yang juga melandasi hubungan pria dan wanita. Bukan hubungan yang mengumbar hawa nafsu dan seksualitas yang justru akan merugikan keduabelah pihak terutama wanita.
Syariah Islam secara komprehensif menjaga kehormatan wanita dengan pakaiannya yang menutup aurat, terpisahnya kehidupan pria dan wanita kecuali ada kebutuhan syar’i yang dibolehkan.  Islam hanya melegalkan hubungan seksual pria dan wanita melalui lembaga pernikahan yang mulia dan penuh tanggung jawab. Syariah Islam tentu saja tidak membiarkan segala aktifitas yang melecehkan wanita, tidak membiarkan wanita menjadi obyek seksual seperti industri hiburan penuh syahwat atau bisnis pornografi. Meskipun secara ekonomi mungkin menguntungkan.
Kehormatan wanita pun semakin terjaga dengan keberadaan lembaga pengadilan yang bersikap tegas dan adil berdasarkan syariah Islam untuk menghukum siapapun yang merusak dan melecehkan kehormatan wanita. Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (TQS al-Maidah : 50). [] Farid Wadjdi [www.globalmuslim.web.id]

“Duhai Ayah – Ibu, Bantu Aku Menjadi Penghuni Surga” (Renungan sebagai Orang Tua)

Setiap kita mungkin sudah akrab sekali dengan hadits berikut ini,

“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi “ (HR Bukhari)

Sebagian kita bahkan mungkin hafal.  Hadits ini cukup masyhur, sering disitir para da’i  terlebih lagi saat perayaan aqiqah kelahiran seorang anak.

Namun, terbiasanya kita dengan hadits ini tentu tak serta merta membuat kita memandang biasa pula atas peringatan yang terkandung di dalamnya, yakni masa depan agama anak ada di tangan kita. Baca lebih lanjut

#2 CINTA YANG MENUNJANG (Edisi Rumah Tangga)

Di jaman seperti sekarang, bekerja tidak saja untuk mencari nafkah semata. Bekerja menjadi ikhtiar memenuhi kebutuhan yang lain. Jika kita hitung penghasilan kita, sekadar kebutuhan makan-minum, sandang, dll sudahlah cukup. Tapi kita tetap saja mengejar dan selalu merasa kurang. Waktu 24 jam sehari, 7 hari seminggu, pun terasa kurang.

Bermacam-macam motifnya. Bisa jadi kita mempunyai keinginan untuk mengganti mobil dengan yang baru atau memiliki rumah di kawasan elit.

Bahkan kemajuan manajemen finansial sekarang mendorong kita melangkah lebih jauh lagi, tidak saja memenuhi kebutuhan sekarang tapi juga yang akan datang. Manajemen ini mewajibkan kita berinvestasi agar hidup akan datang lebih terjamin. Berbagai jenis investasipun tergelar di depan mata seperti properti tanah dan bangunan (rumah dan apartemen), investasi uang (saham, obligasi, reksadana, dollar), juga asuransi pendidikan anak, kesehatan, dll. Dari sini pastilah sudah motivasi bekerja lebih sekadar memenuhi nafkah makan-minum.

Jika kita sederhanakan, obyek-obyek di atas berada dalam satu golongan, harta. Dan memilikinya tentu sebuah kebanggaan.

Baca lebih lanjut

#1 THE POWER OF LOVE (Edisi Rumah Tangga)

Kata orang, jika sudah cinta, t*i kucing rasa coklat. Saya kurang sreg dengan kalimat ini, mungkin karena kurang nyaman atas pemilihan kata. Namun demikian, saya tak bisa memungkiri bahwa mungkin begitulah kenyataannya.

Benarkah jika sudah cinta apa saja akan dilakukan? Kata para pujangga, cinta adalah pengorbanan. Karenanya kita mendengar legenda bagaimana Candi Prambanan berdiri dalam semalam. Begitu pula Tangkuban Perahu. Atau cerita real Tajj Mahal di India. Sebuah objek-objek yang terbangun dari asa yang bernama cinta. Baca lebih lanjut

KRISIS LISTRIK DI LUAR NALAR

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Pusat, Gita Wirjawan, ketika berada di Kalsel terheran-heran listrik di daerah kita byarpet. Saya yakin siapapun pejabat atau pengusaha dari luar jika datang ke Kalsel juga akan terheran-heran dengan keadaan –yang kita sendiri (warga Kalsel) sudah sangat biasa– yaitu listrik mati! Baca lebih lanjut

TALK ABOUT “VIDEO PORNO”

Sebuah portal berita nasional hari ini (10/06/10)  memberitakan situs jejaring sosial, Tweeter, bolak-balik down (over capacity) lantaran ramainya tweeps (pengguna Tweeter) yang sedang nimbrung. Konyolnya trending topic kala itu adalah Ariel Peterporn. Luar biasa, Tweeter hang lantaran tweeps Indonesia! Sampai-sampai salah seorang tweeps dari luar negeri ngedumel begini, “I hate when Twitter gets over capacity! Someone explain ‘stupid whale,’ ‘Ariel Peterporn,’ and ‘Cut Tari Resmi Dipecat’ pleaseee. (:”

Ramainya gossip Ariel memang menjejali semuanya. Media massa cetak, televisi, dan apalagi internet. Tak menutup kemungkinan juga menjejali kepala sebagian orang-orang Indonesia. Tapi kali ini saya tidak ingin terlalu dalam membahasnya dari segi Ariel. Ingin membahasnya dari sisi lain dan tokoh yang lain pula. Baca lebih lanjut

Pelecehan Seksual di Bus, Pegiat Gender, dan “Kenyamanan Sejati”

Apa pendapat Anda jika ada ide untuk memisahkan penumpang laki-laki dan penumpang perempuan di angkutan umum, semacam bus dan kereta api? Saya yakin jawabannya beragam. Tapi jika pertanyaan ini benar-benar dilontarkan ke aktivis gender, saya yakin akan tertawa terbahak-bahak. “Ide konyol!”, mungkin demikian bilang mereka.

Isitilah memisahkan dan membedakan perlakuan pria-wanita adalah istilah-istilah yang paling mereka musuhi.  Persamaan hak, itulah tema perjuangan mereka. Menyamakan apa saja.  Karenanya ide memisahkan penumpang laki-laki dan perempuan bisa ditebak akan mendapat pertentangan dari para aktivis ini. Seperti yang pernah dilakukanRieke “Oneng” Diah Pitaloka yang menolak gagasan memisahkan penumpang laki-laki dan perempuan[1]. Baca lebih lanjut