Posts filed under ‘Kantor’
Matrik Jadwal UAS Ganjil 09/10
Untuk rekan2 sejawat, lebih khusus para sekretaris prodi, silakan donlot matrik jadwal uas.
Nasihat Atasan
Kamis, 16 Juli 2009, secara mendadak pimpinan meminta saya dan teman-teman untuk rapat. Aroma “kemarahan” pimpinan sudah terendus kuat di setiap ruang kerja kami. Prediksi-prediksi liar cepat menyebar, kiranya apa gerangan penyebab rapat nanti. Di antara prediksi tadi adalah para staf sering ngantor telat tapi pulang cepat, pesanan kerjaan pimpinan beberpa tidak kami kerjakan, dan sering missed comm satu bagian dengan bagian lain.
Benar saja, beliau marah besar. Saya yang terpaksa duduk di samping beliau bisa merasakan kemarahan tersebut. Ampun suaranya keras sekali! Memang dari sudut bawahan kadang saya dan teman-teman sering melihat sebagai sikap arogansi beliau, ambisius, dan tak ada toleransi/belas kasihan. Kadang pula memandang remeh beliau untuk beberapa urusan. Yang saya maksud urusan tersebut adalah dalam hal agama. Semua karyawati di kantor memakai kerudung. Hal yang paling kontras dengan beliau. Sekilas –maaf– sisi religi beliau tampak tenggelam oleh skap-sikap beliau di atas (arogan, dll). Apalagi kemudian di antara pernyataan beliau banyak terselip “nasihat” bagaimana seorang muslim mestinya bekerja. Tidak korupsi waktu, amanah, jujur, dan apalagi mendekati bulan Ramadhan ini. Menjadi hal yang tampaknya sulit diterima oleh bawahan beliau karena kemudian beliau timpali dengan mestinya sikap tersebut ada pada diri staf-staf beliau yang “ilmunya” lebih tinggi dibanding beliau (yang tak berkerudung itu).
Terlepas sikap beliau yang kadang keras, jujur saya ingin katakan bahwa di antara begitu banyak pernyataan beliau, ada beberapa yang mestinya menjadi evaluasi bagi saya. Saya teringat petuah Imam Ali bin Abi Thalib “Undzur maa qoola, walaa tandzur man qoola” Lihatlah apa yang dikatakan, dan jangan kau melihat siapa yang mengatakan. Apalagi beliau, orang yang usianya lebih tua (dalam Islam orang yang lebih tua mesti dihormati), guru (dosen) saya semasa kuliah dulu, dan pimpinan (di mana aqad ijarah saya dengan beliau sebagai representasi instansi tempat saya bekerja).
Jujur seorang muslim harus memenuhi aqad-aqad yang telah dia buat dan sepakati. Quran mengatakan, “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu” (TQS Al Maa’idah[5] : 1). Menurut tafsir, aqad yang dimakasud bukan hanya janji setia kepada Allah tetapi juga aqad dalam pergaulan antarsesama manusia (muamalah).
Biarlah, satu sisi beliau mempunyai sikap yang kurang pas dengan saya di sisi lain beliau kadang kali benar dan tepat di masalah lain. Saya tak harus men-generalisasinya. Bukankah setiap manusia ada kelebihan dan kekurangan?

Komentar