#2 CINTA YANG MENUNJANG (Edisi Rumah Tangga)

15 Februari 2011 at 3:29 AM 2 komentar

Di jaman seperti sekarang, bekerja tidak saja untuk mencari nafkah semata. Bekerja menjadi ikhtiar memenuhi kebutuhan yang lain. Jika kita hitung penghasilan kita, sekadar kebutuhan makan-minum, sandang, dll sudahlah cukup. Tapi kita tetap saja mengejar dan selalu merasa kurang. Waktu 24 jam sehari, 7 hari seminggu, pun terasa kurang.

Bermacam-macam motifnya. Bisa jadi kita mempunyai keinginan untuk mengganti mobil dengan yang baru atau memiliki rumah di kawasan elit.

Bahkan kemajuan manajemen finansial sekarang mendorong kita melangkah lebih jauh lagi, tidak saja memenuhi kebutuhan sekarang tapi juga yang akan datang. Manajemen ini mewajibkan kita berinvestasi agar hidup akan datang lebih terjamin. Berbagai jenis investasipun tergelar di depan mata seperti properti tanah dan bangunan (rumah dan apartemen), investasi uang (saham, obligasi, reksadana, dollar), juga asuransi pendidikan anak, kesehatan, dll. Dari sini pastilah sudah motivasi bekerja lebih sekadar memenuhi nafkah makan-minum.

Jika kita sederhanakan, obyek-obyek di atas berada dalam satu golongan, harta. Dan memilikinya tentu sebuah kebanggaan.

 

* * *

 

Kiranya pembaca sudi mengijinkan saya mengajak flashback ke masa lalu ”menemui” kehidupan masyarakat pada jaman Nabi untuk membandingkannya dengan gaya hidup kita saat ini.

Jika kita bangga dengan harta berupa mobil mewah, rumah mewah, dan berbagai investasi serta berbagai jaminan kesejahteraan lainnya, pada jaman Nabi masyarakatnya hampir sama. Jenis objeknya mungkin berbeda. Namun dalam pembahasan harta, emas dan perak lebih menonjol. Kebanggaan diwujudkan dengan menimbunnya. Hingga suatu saat Allah Swt menurunkan firmanNya:

”Dan orang-orang yang menyimpan perbendaharaan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (At-Taubah : 34-35)

Berkenaan dengan ayat ini, ada sebuah hadits (Musnad Ahmad 21401) yang berbunyi

”Saat turun ayat tentang perak dan emas seperti itu, mereka berkata; Lalu harta apa yang kami ambil?”

Diberitakan menurut hadits di atas, para sahabat merasa berat atas pelarangan tersebut. Tidak saja berat karena dilarang menabung untuk bekal anak dan isterinya ketika ia meninggal, tetapi juga merasa berat karena tak ada lagi simpanan yang membanggakan.

Memiliki emas dan perak adalah sebuah kebanggaan. Sama seperti kita memiliki harta juga sangat membanggakan. Lebih dari kesejahteraan tapi juga presitise. Namun ”menumpuknya” ternyata dilarang oleh Allah dan RasulNya.

Jika kita misalkan, kita dilarang menimbun harta saat ini dan akan diancam dengan siksa yang berat di akhirat, mungkin kita juga akan berkata dengan kalimat yang sama persis dengan para sahabat kala itu, ”Harta apa lagi yang dapat kita ambil, simpan, dan banggakan?”

Rasanya memang tak ada lagi yang bisa kita banggakan selain harta itu sendiri. Bukankah kita rela mengorbankan waktu, tenaga, dan pikiran untuk mencari harta? Bahkan untuk beberapa kasus manusia rela mengorbankan keluarga atau bahkan agamanya.

Tapi, benarkah hanya harta yang mampu membanggakan? Adakah hal lain? Bahkan adakah yang mampu melebihi harta?

Untuk menjawabnya, marilah kita simak kelanjutan hadits di atas.

‘Umar berkata; Aku akan memberitahukannya kepada kalian. Tsauban berkata; Umar mempercepat perjalanan untanya lalu menyusulnya dan aku berada dibelakangnya, ia berkata; Wahai Rasulullah! Harta apa yang bisa kami ambil? Rasulullah Shallallahu’alaihiWasallam bersabda; “Hendaklah masing-masing kalian memiliki hati yang bersyukur, lisan yang berdzikir, istri yang membantunya untuk urusan akhirat.”

Splash….!!! tak pernah terpikirkan! Mungkin untuk dzikir dan syukur, maaf, sudah sering kita dengar. Rasa tamak yang berurat berakar di hati bahkan bisa mati layaknya benalu yang kering dan jatuh terkelupas di pokok tanaman karena sejuknya dzikir dan syukur. Kitapun sering mendengar bahwa yang di maksud kaya bukanlah kaya harta tapi kaya hati. Tapi ini isteri, ”bagaimana ceritanya” mampu mengalahkan harta?

 

* * *

 

Isteri (apalagi yang sholihah) memang tak pantas dibandingkan dengan harta. Tak ada parameter yang sama. Istilahnya beda ranah/domainnya. Tapi dalam kerangka mana yang lebih patut dibanggakan, keduanya pantas diperbandingkan.

Ayat di atas juga haditsnya kembali meng-kalibrasi ukuran-ukuran yang kita pakai. Baik oleh isteri maupun suami. Dengan hadits ini pula jika kita renungi dengan mendalam kita akan kembali pada standar yang benar.

Bagi isteri, kemuliaannya bukan terletak pada paras dan fisiknya. Bukan pada karir dan profesinya. Bukan pula nasab keturunannya. Martabatnya yang mulia terletak pada ketakwaannya. ”Fungsinya” yang mampu menunjang urusan agama suaminya meletakkan dia laksana pusaka yang wajib dimiliki, dijaga, dan ”dibanggakan”! Melebihi harta yang dengannya membuat manusia terasa mampu berbuat apa saja.

Lalu, sudahkah kita bangga dengan isteri kita yang selalu menopang agama kita? Sudikah kita untuk menciptakan kondisi agar dia menjadi penyokong agama kita? Serta, dan ini lebih penting, sudahkah kita menjadi pasangan yang mampu menopang urusan agama pasangan kita?[] pujo nugroho

 

Entry filed under: Ijtima' (Pergaulan), Islam, Keluarga, Renungan. Tags: .

#1 THE POWER OF LOVE (Edisi Rumah Tangga)

2 Komentar Add your own

  • 1. renungan  |  15 Februari 2011 pada 2:30 PM

    semoga bisa mewujudkan keluarga yang islami, untuk masyarakat yang islami..

    Balas
    • 2. pujo  |  16 Februari 2011 pada 9:12 AM

      Amin…

      Balas

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Tulisan Terkini

Kategori

Almanak

Februari 2011
S S R K J S M
« Jun    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28  

Blog Stats

  • 3,896 hits

Top Rated

Facebook


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.