#1 THE POWER OF LOVE (Edisi Rumah Tangga)
13 Februari 2011 at 2:57 PM Tinggalkan Komentar
Kata orang, jika sudah cinta, t*i kucing rasa coklat. Saya kurang sreg dengan kalimat ini, mungkin karena kurang nyaman atas pemilihan kata. Namun demikian, saya tak bisa memungkiri bahwa mungkin begitulah kenyataannya.
Benarkah jika sudah cinta apa saja akan dilakukan? Kata para pujangga, cinta adalah pengorbanan. Karenanya kita mendengar legenda bagaimana Candi Prambanan berdiri dalam semalam. Begitu pula Tangkuban Perahu. Atau cerita real Tajj Mahal di India. Sebuah objek-objek yang terbangun dari asa yang bernama cinta.
Dalam sebuah drama karya William Shakespeare, disiratkan cinta itu buta. Mungkin karena kebutaannya si pemilik jasad rela mengorbankan apa saja. Setidaknya demikian garis tebal pada roman tragik Shakespeare, Romeo and Julia. Dikisahkan pada klimaks drama ini Romeo meminum racun yang dibelinya di The Apothecary demi menyusul Julia yang dikiranya sudah mati. Sejatinya Julia tidak mati. Dia hanya ”terpulas” mengelabui keluarga besarnya, untuk menghindari perjodohan dengan keturunan dari Kerajaan Verona, Italia. Namun sayang Romeo tak mendapat pesan bahwa Julia sedang berpura-pura. Mendapati Romeo terkulai lemas tak bernyawa, Julia akhirnya juga bunuh diri dengan sebilah pisau yang diiriskan di nadi tangannya. Walhasil keduanya mati dengan cara yang sama, bunuh diri. Berdasarkan roman ini, ketragisan inilah yang menjadi titik balik perdamaian keluarga Capulet (keluarga besar Julia) dan Montague (keluarga besar Romeo).
Di mata kritikus drama, roman ini fenomenal. Demikian besar kemudian disajikan dalam berbagai rupa, tidak saja drama tapi juga opera dan puisi. Arthur Brooke pada tahun 1562 menggubahnya menjadi puisi berjudul The Tragical History of Romeus and Julia.
Hingga kini, mungkin, tak ada yang berani mengkritisi roman sepanjang masa ini. Mungkin karena itu pula tak ada yang mempersoalkan bagaimana cinta (dari sudut ini) disajikan sebagai pemicu kesadisan dan kekonyolan (mati konyol).
Terlepas dari hal tersebut, pada fragmen drama ini, juga dua legenda dan kisah nyata Tajj Mahal di atas, kita menangkap pesan yang semua kita sudah menyepakatinya, cinta menyebabkan orang mau melakukan apa saja. Cinta bak sumber tenaga tersendiri bagi manusia. Cinta laksana energi potensial yang karenanya manusia seolah mampu melakukan apa saja. The power of love! Tapi juga cinta membutakan.
* * *
Kalau boleh saya mengibaratkan, cinta itu bak seekor kuda. Kuda yang mampu berlari mengantarkan ke mana saja. Mau menyeberangi sungai, melintasi pesisir pantai, atau terjun bebas ke jurang. Kendali ada pada penunggangnya.
Karenanya, dalam berumah tangga bukan saja cinta yang kita dibutuhkan. Tapi kemampuan insan yang terlibat untuk mengendalikannya. Cinta yang membutakan ibarat kuda binal. Bisa jadi keliarannya menyebabkan sepasang insan yang berada dalam dekapan cinta mau melakukan apa saja. Karena alasan cinta terhadap pasangannya dia mengijinkan sesuatu yang mesti dilarangnya. Mencegah sesuatu yang mestinya dilakukan.
Tak jarang kita menemui sepasang suami isteri yang begitu harmonis (saling mencintai) tapi menyimpang. Saya pernah menjumpai seorang isteri yang mentolelir suaminya yang sudah begitu lama tak pernah sholat jumat. Diam saja. Mungkin di pasangan lain kita temui si suami yang ingin membahagiakan pasangannya rela menempuh cara yang tidak halal untuk memberikan harta. Isterinya malah senang karena uang mengalir kencang. Di sebuah film, suami isteri saling mendukung untuk melakukan penipuan.
* * *
Cinta dalam Islam bukan barang haram, karena ia adalah kefitrahan. Dengan cinta kita merasa tentram dan damai berada dalam kelembutan awan kasih sayang.
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan Dia menjadikan rasa kasih sayang diantaramu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kalian yang berfikir.” (QS. Ar-Rum: 21)
Luar biasa Islam. Cinta tak sekadar hadir kemudian dilepas begitu saja. Energi cinta yang sedemikian kuat dan besar –hingga mampu mendorong insan manusia melakukan apa saja– disalurkan sedemikian rupa tidak saja untuk memenuhi hasrat fitrah manusia tetapi juga meninggikan derajat manusia itu sendiri.
Lebih sekadar itu, cinta dalam Islam penuh dengan nafas ketuhanan. Suami-isteri, dengan dasar cinta di antara mereka, sanggup saling mendukung dalam beribadah dan menghindari kemaksiatan. Dengan cinta yang mewujud mereka saling menegur mengingatkan. Menghentikan sesuatu yang harus dihentikan. Meluruskan yang bengkok. Menggerakkan yang terhenti. Mempercepat yang lambat. Saling menyokong!
Simaklah firman Allah ‘Azza wajalla berikut:
“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (At Taubah: 71)
“Tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan ketakwaan dan janganlah kamu tolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan.” (TQS: al-Maidah:2)
Karenanya, dalam Islam, telah disediakan rel bagaimana cinta berjalan dengan semestinya. Tak ada cinta yang menyebabkan sepasang insan terjerumus ke dalam jurang kenistaan. Sebaliknya cinta akan tetap membuat manusia bermartabat.
Ternyata dalam Islam “cinta” terjaga oleh sebuah mekanisme. Cinta kepada makhluk tak boleh mengalahkan cinta kepada Sang Khaliq. Dalam ketaatan kepada Allah, Dzat yang Paling Rahmah, segala kasih sayang sejati dapat ditemukan.
“Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla berfirman pada hari kiamat; ‘Dimanakah hari ini orang-orang yang saling mencinta karena keagungan-Ku? Aku akan menaunginya dalam naungan-Ku pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Ku.’” (Musnad Ahmad 10489)
Dengan Islam, cinta menghantarkan pada kedamaian, ketentraman, kebahagian, juga keberkahan. Wallahu’alam [] pujo nugroho

Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed