Archive for Februari, 2011

#2 CINTA YANG MENUNJANG (Edisi Rumah Tangga)

Di jaman seperti sekarang, bekerja tidak saja untuk mencari nafkah semata. Bekerja menjadi ikhtiar memenuhi kebutuhan yang lain. Jika kita hitung penghasilan kita, sekadar kebutuhan makan-minum, sandang, dll sudahlah cukup. Tapi kita tetap saja mengejar dan selalu merasa kurang. Waktu 24 jam sehari, 7 hari seminggu, pun terasa kurang.

Bermacam-macam motifnya. Bisa jadi kita mempunyai keinginan untuk mengganti mobil dengan yang baru atau memiliki rumah di kawasan elit.

Bahkan kemajuan manajemen finansial sekarang mendorong kita melangkah lebih jauh lagi, tidak saja memenuhi kebutuhan sekarang tapi juga yang akan datang. Manajemen ini mewajibkan kita berinvestasi agar hidup akan datang lebih terjamin. Berbagai jenis investasipun tergelar di depan mata seperti properti tanah dan bangunan (rumah dan apartemen), investasi uang (saham, obligasi, reksadana, dollar), juga asuransi pendidikan anak, kesehatan, dll. Dari sini pastilah sudah motivasi bekerja lebih sekadar memenuhi nafkah makan-minum.

Jika kita sederhanakan, obyek-obyek di atas berada dalam satu golongan, harta. Dan memilikinya tentu sebuah kebanggaan.

 

* * *

 

Kiranya pembaca sudi mengijinkan saya mengajak flashback ke masa lalu ”menemui” kehidupan masyarakat pada jaman Nabi untuk membandingkannya dengan gaya hidup kita saat ini.

Jika kita bangga dengan harta berupa mobil mewah, rumah mewah, dan berbagai investasi serta berbagai jaminan kesejahteraan lainnya, pada jaman Nabi masyarakatnya hampir sama. Jenis objeknya mungkin berbeda. Namun dalam pembahasan harta, emas dan perak lebih menonjol. Kebanggaan diwujudkan dengan menimbunnya. Hingga suatu saat Allah Swt menurunkan firmanNya:

”Dan orang-orang yang menyimpan perbendaharaan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (At-Taubah : 34-35)

Berkenaan dengan ayat ini, ada sebuah hadits (Musnad Ahmad 21401) yang berbunyi

”Saat turun ayat tentang perak dan emas seperti itu, mereka berkata; Lalu harta apa yang kami ambil?”

Diberitakan menurut hadits di atas, para sahabat merasa berat atas pelarangan tersebut. Tidak saja berat karena dilarang menabung untuk bekal anak dan isterinya ketika ia meninggal, tetapi juga merasa berat karena tak ada lagi simpanan yang membanggakan.

Memiliki emas dan perak adalah sebuah kebanggaan. Sama seperti kita memiliki harta juga sangat membanggakan. Lebih dari kesejahteraan tapi juga presitise. Namun ”menumpuknya” ternyata dilarang oleh Allah dan RasulNya.

Jika kita misalkan, kita dilarang menimbun harta saat ini dan akan diancam dengan siksa yang berat di akhirat, mungkin kita juga akan berkata dengan kalimat yang sama persis dengan para sahabat kala itu, ”Harta apa lagi yang dapat kita ambil, simpan, dan banggakan?”

Rasanya memang tak ada lagi yang bisa kita banggakan selain harta itu sendiri. Bukankah kita rela mengorbankan waktu, tenaga, dan pikiran untuk mencari harta? Bahkan untuk beberapa kasus manusia rela mengorbankan keluarga atau bahkan agamanya.

Tapi, benarkah hanya harta yang mampu membanggakan? Adakah hal lain? Bahkan adakah yang mampu melebihi harta?

Untuk menjawabnya, marilah kita simak kelanjutan hadits di atas.

‘Umar berkata; Aku akan memberitahukannya kepada kalian. Tsauban berkata; Umar mempercepat perjalanan untanya lalu menyusulnya dan aku berada dibelakangnya, ia berkata; Wahai Rasulullah! Harta apa yang bisa kami ambil? Rasulullah Shallallahu’alaihiWasallam bersabda; “Hendaklah masing-masing kalian memiliki hati yang bersyukur, lisan yang berdzikir, istri yang membantunya untuk urusan akhirat.”

Splash….!!! tak pernah terpikirkan! Mungkin untuk dzikir dan syukur, maaf, sudah sering kita dengar. Rasa tamak yang berurat berakar di hati bahkan bisa mati layaknya benalu yang kering dan jatuh terkelupas di pokok tanaman karena sejuknya dzikir dan syukur. Kitapun sering mendengar bahwa yang di maksud kaya bukanlah kaya harta tapi kaya hati. Tapi ini isteri, ”bagaimana ceritanya” mampu mengalahkan harta?

 

* * *

 

Isteri (apalagi yang sholihah) memang tak pantas dibandingkan dengan harta. Tak ada parameter yang sama. Istilahnya beda ranah/domainnya. Tapi dalam kerangka mana yang lebih patut dibanggakan, keduanya pantas diperbandingkan.

Ayat di atas juga haditsnya kembali meng-kalibrasi ukuran-ukuran yang kita pakai. Baik oleh isteri maupun suami. Dengan hadits ini pula jika kita renungi dengan mendalam kita akan kembali pada standar yang benar.

Bagi isteri, kemuliaannya bukan terletak pada paras dan fisiknya. Bukan pada karir dan profesinya. Bukan pula nasab keturunannya. Martabatnya yang mulia terletak pada ketakwaannya. ”Fungsinya” yang mampu menunjang urusan agama suaminya meletakkan dia laksana pusaka yang wajib dimiliki, dijaga, dan ”dibanggakan”! Melebihi harta yang dengannya membuat manusia terasa mampu berbuat apa saja.

Lalu, sudahkah kita bangga dengan isteri kita yang selalu menopang agama kita? Sudikah kita untuk menciptakan kondisi agar dia menjadi penyokong agama kita? Serta, dan ini lebih penting, sudahkah kita menjadi pasangan yang mampu menopang urusan agama pasangan kita?[] pujo nugroho

 

15 Februari 2011 at 3:29 AM 2 komentar

#1 THE POWER OF LOVE (Edisi Rumah Tangga)

Kata orang, jika sudah cinta, t*i kucing rasa coklat. Saya kurang sreg dengan kalimat ini, mungkin karena kurang nyaman atas pemilihan kata. Namun demikian, saya tak bisa memungkiri bahwa mungkin begitulah kenyataannya.

Benarkah jika sudah cinta apa saja akan dilakukan? Kata para pujangga, cinta adalah pengorbanan. Karenanya kita mendengar legenda bagaimana Candi Prambanan berdiri dalam semalam. Begitu pula Tangkuban Perahu. Atau cerita real Tajj Mahal di India. Sebuah objek-objek yang terbangun dari asa yang bernama cinta.

Dalam sebuah drama karya William Shakespeare, disiratkan cinta itu buta. Mungkin karena kebutaannya si pemilik jasad rela mengorbankan apa saja. Setidaknya demikian garis tebal pada roman tragik Shakespeare, Romeo and Julia. Dikisahkan pada klimaks drama ini Romeo meminum racun yang dibelinya di The Apothecary demi menyusul Julia yang dikiranya sudah mati. Sejatinya Julia tidak mati. Dia hanya ”terpulas” mengelabui keluarga besarnya, untuk menghindari perjodohan dengan keturunan dari Kerajaan Verona, Italia. Namun sayang Romeo tak mendapat pesan bahwa Julia sedang berpura-pura. Mendapati Romeo terkulai lemas tak bernyawa, Julia akhirnya juga bunuh diri dengan sebilah pisau yang diiriskan di nadi tangannya. Walhasil keduanya mati dengan cara yang sama, bunuh diri. Berdasarkan roman ini, ketragisan inilah yang menjadi titik balik perdamaian keluarga Capulet (keluarga besar Julia) dan Montague (keluarga besar Romeo).

Di mata kritikus drama, roman ini fenomenal. Demikian besar kemudian disajikan dalam berbagai rupa, tidak saja drama tapi juga opera dan puisi.  Arthur Brooke pada tahun 1562 menggubahnya menjadi puisi berjudul  The Tragical History of Romeus and Julia.

Hingga kini, mungkin, tak ada yang berani mengkritisi roman sepanjang masa ini. Mungkin karena itu pula tak ada yang mempersoalkan bagaimana cinta (dari sudut ini) disajikan sebagai pemicu kesadisan dan kekonyolan (mati konyol).

Terlepas dari hal tersebut, pada fragmen drama ini, juga dua legenda dan kisah nyata Tajj Mahal di atas, kita menangkap pesan yang semua kita sudah menyepakatinya, cinta menyebabkan orang mau melakukan apa saja. Cinta bak sumber tenaga tersendiri bagi manusia. Cinta laksana energi potensial yang karenanya manusia seolah mampu melakukan apa saja. The power of love! Tapi juga cinta membutakan.

* * *

Kalau boleh saya mengibaratkan, cinta itu bak seekor kuda. Kuda yang mampu berlari mengantarkan ke mana saja. Mau menyeberangi sungai, melintasi pesisir pantai, atau terjun bebas ke jurang. Kendali ada pada penunggangnya.

Karenanya, dalam berumah tangga bukan saja cinta yang kita dibutuhkan. Tapi kemampuan insan yang terlibat untuk mengendalikannya. Cinta yang membutakan ibarat kuda binal. Bisa jadi keliarannya menyebabkan sepasang insan yang berada dalam dekapan cinta mau melakukan apa saja. Karena alasan cinta terhadap pasangannya dia mengijinkan sesuatu yang mesti dilarangnya. Mencegah sesuatu yang mestinya dilakukan.

Tak jarang kita menemui sepasang suami isteri yang begitu harmonis (saling mencintai) tapi menyimpang. Saya pernah menjumpai seorang isteri yang mentolelir suaminya yang sudah begitu lama tak pernah sholat jumat. Diam saja. Mungkin di pasangan lain kita temui si suami yang ingin membahagiakan pasangannya rela menempuh cara yang tidak halal untuk memberikan harta. Isterinya malah senang karena uang mengalir kencang. Di sebuah film, suami isteri saling mendukung untuk melakukan penipuan.

* * *

Cinta dalam Islam bukan barang haram, karena ia adalah kefitrahan. Dengan cinta kita merasa tentram dan damai berada dalam kelembutan awan kasih sayang.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan Dia menjadikan rasa kasih sayang diantaramu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kalian yang berfikir.” (QS. Ar-Rum: 21)

Luar biasa Islam. Cinta tak sekadar hadir kemudian dilepas begitu saja. Energi cinta yang sedemikian kuat dan besar –hingga mampu mendorong insan manusia melakukan apa saja– disalurkan sedemikian rupa tidak saja untuk memenuhi hasrat fitrah manusia tetapi juga meninggikan derajat manusia itu sendiri.

Lebih sekadar itu, cinta dalam Islam penuh dengan nafas ketuhanan. Suami-isteri, dengan dasar cinta di antara mereka, sanggup saling mendukung dalam beribadah dan menghindari kemaksiatan. Dengan cinta yang mewujud mereka saling menegur mengingatkan. Menghentikan sesuatu yang harus dihentikan. Meluruskan yang bengkok. Menggerakkan yang terhenti. Mempercepat yang lambat. Saling menyokong!

Simaklah firman Allah ‘Azza wajalla berikut:

“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (At Taubah: 71)

“Tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan ketakwaan dan janganlah kamu tolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan.”  (TQS: al-Maidah:2)

Karenanya, dalam Islam, telah disediakan rel bagaimana cinta berjalan dengan semestinya. Tak ada cinta yang menyebabkan sepasang insan terjerumus ke dalam jurang kenistaan. Sebaliknya cinta akan tetap membuat manusia bermartabat.

Ternyata dalam Islam “cinta” terjaga oleh sebuah mekanisme.  Cinta kepada makhluk tak boleh mengalahkan cinta kepada Sang Khaliq. Dalam ketaatan kepada Allah, Dzat yang Paling Rahmah, segala kasih sayang sejati dapat ditemukan.

“Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla berfirman pada hari kiamat; ‘Dimanakah hari ini orang-orang yang saling mencinta karena keagungan-Ku? Aku akan menaunginya dalam naungan-Ku pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Ku.’” (Musnad Ahmad 10489)

Dengan Islam, cinta menghantarkan pada kedamaian, ketentraman, kebahagian, juga keberkahan. Wallahu’alam [] pujo nugroho

13 Februari 2011 at 2:57 PM Tinggalkan Komentar


Tulisan Terkini

Kategori

Almanak

Februari 2011
S S R K J S M
« Jun    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28  

Blog Stats

  • 3,896 hits

Top Rated

Facebook


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.