TRAGEDI MAVI MARMARA DAN RENCANA KUNJUNGAN OBAMA KE INDONESIA
4 Juni 2010 at 7:19 AM Tinggalkan Komentar
Menurut kabar, sebanyak 20 orang tewas dan ratusan orang terluka akibat penyerangan tentara Israel terhadap kapal Mavi Marmara. Seperti yang sudah diketahui, Mavi Marmara adalah kapal yang membawa bantuan kemanusiaan untuk penduduk Gaza, Palestina. Gaza sendiri telah diisolasi Israel berhari-hari dari berbagai penjuru termasuk dari arah laut. Pengisolasian ini sendiri hanyalah pelengkap dari penyiksaan Israel terhadap warga Gaza. Sebelumnya serangan-serangan Israel semakin brutal membunuhi warga Gaza. Di sisi yang lain segala akses masuk ke Gaza ditutup, baik untuk masuk maupun keluar Gaza. Segala fasilitas juga tidak bisa didapat, seperti air bersih, listrik, obat-obatan, makanan, dan lainnya. Hal inilah yang kemudian meningkatkan keperihatinan warga dunia terhadap nasib penduduk Gaza yang diwujudkan dengan pengiriman bantuan kemanusiaan.
Namun Israel bersikeras menolak bantuan kemanusiaan tersebut. Berbagai bala bantuan kemanusiaan hanya bisa teronggok di perbatasan. Israel hanya memberikan satu opsi yakni mengawal kapal dengan angkatan laut mereka dan memaksanya bersandar di Ashdod, sebuah kota pelabuhan kecil di utara Jalur Gaza. Membongkar muatan untuk dihantar dan didistribusikan UNRWA (United Nations Relief and Works Agency). Begitulah opsi yang tentu janji untuk menghantarkan bantuan tersebut sangat disangsikan. Jangankan menolak bantuan atau membiarkan bantuan rusak membusuk, atau tidak menyalurkan bantuan, membunuh warga Palestina secara blak-blakkan saja adalah hal yang biasa bagi Israel.
Di sinilah tragedi Mavi Marmara bermula. Tatkala kapal Mavi Marmara mencoba menerobos barikade kapal-kapal AL Israel untuk memberikan bantuan secara langsung, Israel menyerang kapal tersebut. Puluhan tentara Israel turun dari helikopter-helikopter mereka menggunakan tali. Tentara tersebut dilengkapi senjata lengkap, peluru, gas air mata, penyetrum listrik, dan bahkan granat, seperti penuturan Norazma Abdullah, aktivis asal Malaysia. Walhasil sebanyak 20 relawan tewas sedang ratusan orang lainnya terluka. Termasuk relawan-relawan dari Indonesia.
Pembantaian di Atas Mavi Marmara
Bülent Yildirm, yang mengepalai Yayasan Bantuan Kemanusiaan (IHH), kepada wartawan di bandara Istanbul menyatakan bagaimana seorang jurnalis yang bernama Cevdet tewas oleh tentara Israel tanpa alasan. “Dia hanya mengambil gambar. Dia ditembak dari jarak yang tidak lebih dari satu meter dan otaknya meledak … salah satu teman kami ditembak bahkan setelah dia menyerah,” dikutip AFP dari pernyataan Yildrim.
Seorang wartawan Press TV yang ikut dalam rombongan armada kebebasan yang menuju Gaza, dan sempat ditahan oleh militer Israel menceritakan bahwa seorang pria (aktivis relawan) ditembak tepat di kepalanya. Dia mengatakan tembakan amunisi perluru tetap berlangsung meskipun para aktivis telah mengangkat bendera putih.
“Dan mereka membunuh seorang aktivis Turki yang sudah terluka, menembak tepat di kepalanya.” Norazma Abdullah, aktivis asal Malaysia.
Aktivis lain yang bernama Buhamd Ali menambahkan ia melihat seorang tentara Israel menembak dan membunuh orang Turki yang sudah terluka tepat di kepalanya.
Pada kapal yang lain, yakni kapal Tokalak, yang juga mengangkut bantuan untuk muslim Gaza, juga diserang Israel. Menurut sang kapten kapal, Kapten Huseyin, ketika sudah sampai di kapalnnya, tentara Israel langsung menyerangnya dan kru kapal lainnya sambil mengancam menenggelamkan kapal. “Mereka mengarahkan dua buah senjata api ke kepala kami masing-masing,” kata Kapten Huseyin pada konferensi pers pada hari Selasa lalu. “Senjata mereka benar-benar menarik, seperti yang Anda lihat di film-film.”
AS Setia Membela Israel
Kelakuan Israel ini seoalah-olah menjungkirbalikkan dunia. Membunuhi warga Palestina, mengisolir mereka, dan terakhir membunuhi relawan. Dunia bereaksi, berbagai demonstrasi menjalar diseluruh pelosok dunia. Berbagai kecaman mengalir dari pemimpin dunia. Anehnya hanya Amerika Serikat (AS) yang bersikap mengambang. Gedung Putih hanya mengutarakan kata menyesal atas jatuhnya korban. Belakangan Robert Gibbs, juru bicara Gedung Putih, malah menegaskan bahwa serangan kepada relawan kemanusiaan kapal Mavi Marmara tidak akan mengubah hubungan saling percaya antara AS-Israel[1] (eramuslim, 02/06). Apalagi Wapres AS, Joe Biden, pada saat wawancara dengan Charlie Rose, menegaskan bahwa Israel berhak menghentikan kapal bantuan kemanusiaan[2] (eramuslim.com 03/06).
Sikap AS yang demikian memang sudah bisa ditebak. AS-lah satu-satunya negara yang selalu membela Israel. Israel selalu mampu melewati kemarahan dunia atas kebijakannya terhadap Palestina, terutama karena mereka bisa mengandalkan Washington untuk memveto resolusi yang dijatuhkan kepada mereka di Dewan Keamanan PBB yang melindungi Israel dari hukuman apapun.
Bulan Mei yang lalu Obama juga menyerukan kepada parlemen untuk menyetujui usulannya untuk membiayai pembangunan sistem antirudal Israel sebesar US $ 250 juta[3]. Mungkin, AS-lah satu-satunya negara di dunia ini yang mau berkorban dan rela mengeluarkan koceknya sendiri untuk membangun system keamanan negara lain! Semakin kuatnya dukungan Obama terhadap keamanan Israel dapat dilihat dari sikap Gedung Putih. “Sebagaimana presiden telah berulang kali mengatakan, komitmen kami untuk keamanan Israel tak tergoyahkan dan hubungan pertahanan kami lebih kuat daripada sebelumnya”, kata Vietor Tommy, Juru Bicara Gedung Putih yang lain[4].
Tak bisa diingkari sepak terjang Israel di kawasan Timur Tengah tak akan bisa dipisahkan dengan AS. Pemimpin Libya Muammar Gadaffi bahkan mengatakan AS-lah yang berada di balik kejahatan keji atas pembajakan yang dilakukan oleh Israel terhadap konvoi armada kebebasan yang membawa bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza, yang menewaskan puluhan relawan tak bersenjata (eramuslim 02/06)[5].
Rencana Kedatangan Obama ke Indonesia
Secara teritorial AS memang berbeda dengan Israel. Namun secara kebijakan dua negara ini selalu saling dukung. Uniknya di tengah panasnya reaksi dunia terhadap Israel tak berapa lama nanti Obama akan berkunjung ke Indonesia. Menurut pejabat Senior Deplu AS, Maria Otero, Obama akan berkunjung ke Indonesia pada tanggal 14 Juni nanti. Obama memang sempat membatalkan kunjungannya ke Indonesia pada Maret lalu. Tentu persitiwa penembakkan relawan Mavi Marmara akan sedikit banyak mempengaruhi rencana kunjungan tersebut.
Banyak kalangan berpendapat bahwa momen rencana kedatangan Obama adalah saat yang paling tepat untuk memberikan reaksi keras terhadap Israel, dan tentu saja AS. Banyak pula kalangan berpendapat bahwa sikap Israel yang selalu membangkang resolusi PBB, menganggap remeh reaksi dunia, dan mudah membunuhi rakyat Palestina kini tidak bisa hanya ditanggapi dengan dialog semata. Effendi Choiri misalnya, anggota DPR dari PKB ini berpendapat bahwa Indonesia sudah harus mengubah gaya-gaya diplomasinya. Menurut beliau, diplomasi yang dipakai Indonesia selama ini sangat tradisional (detikcom, 01/06)[6].
Lain Effendi Choiri lain lagi Rachel Maryam, anggota DPR dari Partai Demokrat. Rachel berpendapat bahwa reaksi Indonesia yang cukup pantas terhadap AS dan Israel adalah menolak kedatangan Obama. “Kalau perlu misalnya pemerintah Amerika nggak mau melakukan itu, kita tolak kedatangan Obama ke Indonesia. Itu sebagai bentuk unjuk rasa kita terhadap dukungan Amarika kepada Israel,” tegas Rachel[7] (detikcom, 02/06).
Memang menolak atau menerima Obama telah menjadi perdebatan meski secara internasional sebuah negara berhak saja menolak kunjungan pemimpin negara lain. Tetapi secara prinsipil di mana jika Indonesia ingin melaksanakan politik luar negerinya yakni menolak segala bentuk penjajahan di muka bumi maka Indonesia harus memberikan reaksi yang sangat keras. Bukan saja kepada Israel tetapi juga AS.
AS disamping selalu membela kepentingan Israel juga berlaku buruk terhadap dunia Islam. Menginvasi Irak dan hingga kini tak pernah merealisasikan janjinya untuk menarik pasukkannya dari sana, misalnya adalah salah satu bentuk penjajahan yang nyata. Belakangan malah George W. Bush mengatakan bahwa serangannya ke Irak adalah sesuatu yang salah karena tidak ada senjata pemusnah massal di sana[8] (eramuslim, 02/12/2008). AS juga disaat kepemimpinan Obama telah mengirimkan 30 ribu pasukkan untuk menggempur Afganistan Januari lalu. Hingga kini penjara pelanggar HAM, Guantanamo, pun belum ditutup.
Menolak Obama tentu masih belum setimpal sebagai balasan terhadap apa yang sudah mereka lakukan! []
Pujo Nugroho
[1] http://eramuslim.com/berita/dunia/obama-berbicara-kepada-erdogan-atas-serangan-israel.htm
[2] http://www.eramuslim.com/berita/dunia/wapres-as-israel-berhak-menghentikan-armada-kebebasan-ke-gaza.htm
[3] http://eramuslim.com/berita/dunia/parlemen-as-desak-obama-tingkatkan-dukungannya-terhadap-israel.htm
[4] http://eramuslim.com/berita/dunia/obama-akan-danai-sistem-rudal-israel.htm
[5] http://eramuslim.com/berita/dunia/gaddafi-as-bertanggung-jawab-atas-pembantaian-di-kapal-mavi-marmara.htm
[6] http://www.detiknews.com/read/2010/06/01/181532/1367787/10/indonesia-harus-ubah-tata-cara-diplomasi-internasional
[7] http://www.detikhot.com/read/2010/06/02/003438/1367887/230/rachel-maryam-serukan-tolak-kedatangan-obama-ke-indonesia?h991102207
[8] http://www.eramuslim.com/berita/dunia/bush-mengaku-menyesal-invasi-irak.htm

Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed